HABIS GELAP (BELUMLAH) TERBIT TERANG
Sejak proklamasi kemerdekaan, setidaknya Indonesia pernah dihinggapi “awan gelap” dua kali, yaitu pada 30 September 1965, yang ditandai meletusnya G 30 S/PKI, dan 12 – 13 Mei 1998, yang ditandai dengan kerusuhan besar di beberapa kota besar di Indonesia, terutama di Ibukota Jakarta. Setelah situasi normal kembali pasca G 30 S/PKI, Indonesia memasuki peralihan kekuasaan dari orde lama ke orde baru. Begitupun setelah kerusuhan besar di Ibukota dapat dikuasai ditambah dengan mundurnya Soeharto sebagai presiden, orde baru runtuh dan Indonesia berada di orde reformasi.
Kini, orde reformasi sudah melewati masa delapan tahun. Itu artinya, reformasi yang diusung oleh tokoh-tokoh reformis pada waktu itu dan didukung oleh mahasiswa, sudah berjalan sewindu. Delapan tahun dengan empat kali ganti presiden. Ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab, apakah yang berubah setelah reformasi berjalan delapan tahun. Sudahkah awan gelap hilang dari cakrawala Indonesia?
Sejak reformasi bergulir, yang puncaknya pada 21 Mei 1998, ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto, penguasa orde baru selama 32 tahun. Keberhasilan itu yang diperjuangkan bukan tanpa pengorbanan. dari Penembakan mahasisa, trgaedi semanggi, hingga kerusuhab besar yang melanda Jakarta medio Mei 1998. Entah berapa banyak korban yang tewas, hilang, dan luka-luka. Yang pasti, sejak Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya, Indonesia mulai menjalani babak baru dalam bernegara. Ketika itu sejuta harapan membuncah di setiap benak rakyat (tentunya yang pro reformasi loh…!). Harapan akan adanya perubahan. Tidak hanya berganti kepala negara, tetapi juga adanya perubahan di semua lini kehidupan, baik politik, hukum, sosial, budaya, maupun ekonomi.
Sekarang, harapan itu hanya tinggal harapan. Delapan tahun gaung reformasi berlalu, hasilnya belum tampak jelas. Belum lagi hasil nyata gerakan reformasi dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, seperti perbaikan ekonomi dan pemberantasan KKN, hembusan angina reformasi kian hari kian terasa lemah. Ekonomi semakin tidak jelas kemana arahnya dan KKN semakin menggila. Padahal, sejak Soeharto turun, sudah empat kali ganti RI 1, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekaranga SBY. Namun, belum satu kepala negara pun yang bisa membawa negeri ini ke arah pencerahan. Ekonomi semakin sulit, utang semakin melilit, rakyat semakin terjepit. Terjepit dari himpitan ekonomi yang kian hari terasa semakin berat. Harga BBM yang mahal, TDL yang “menyengat”, dan harga sembako yang melambung. Belum lagi biaya pendidikan yang kian tidak merakyat. Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia, seperti bencana alam dan wabah penyakit.
Awan gelap yang sepertinya masih enggan bergeser dari langit bumi pertiwi. Ia masih betah berlama-lama di Indonesia. Entah mengapa awan gelap itu belum juga tergantikan oleh cuaca cerah. Apa karena di Indonesia belum ada “pawang” yang bisa menyingkirkannya sehingga bumi pertiwi tidak lagi dirundung gelap berkepanjangan? Entahlah…!!
Bamboolarangan, 230506
